Filsafat
Beberapa kali saya mendapat complain dari orang-orang yang membaca tulisan saya : kenapa tema2nya selalu “berat”?. Jujur, sayapun tidak tahu jawabannya. Menurut sy tidak semua tulisan saya sulit untuk dicerna,banyak kok yang sifatnya hanya sekedar curhatan ringan atau lelucon semata,walaupun saya tidak menampik mungkin yang biasa-biasa saja bagi saya ternyata dipahami berbeda oleh orang lain. Nah sekarang saya mau menulis tentang sesuatu yang menurut saya berat, tentang: filsafat. Kenapa menjadi berat? Menjadi berat karena setahu saya (CMIIW) belum ada penjelasan yang seragam mengenai arti dari filsafat itu sendiri (mungkin saja saya juga akan bingung ketika menyelesaikan tulisan ini lalu membacanya kembali,hehe). Ada banyak penjelasan dan konsep dari ahli2 sekalipun tetapi sulit menemukan kesepakatan yang jelas. Untuk memahami pengertian filsafat, setidaknya ada 2 model pendekatan yang paling sering digunakan. Yang pertama berdasarkan objek kajiannya dan yang kedua melihat filsafat sebagai suatu pola pikir logis atau model berpikir rasional. Tanpa menafikan pendekatan yang pertama, saya lebih tertarik dan sering mengolah otak saya untuk pendekatan yang kedua.
Alasan lainnya yang menjadikan ini sedikit menyeramkan karena di suatu ketika, seorang teman saya pernah bilang ke saya kalau filsafat bisa membuat orang menjadi gila. Bahkan dia sendiri menjadi saksi mata akan kegilaan yang terjadi setelah melihat orang yang menjadi “tidak nyambung” dan “menciptakan dunia sendiri” akibat terlalu berkutat dengan filsafat.hahaha. Mudah-mudahan saya tidak (setidaknya sampai saat ini sy merasa masih waras). Tapi saya juga kenal orang yang mendalami filsafat, bahkan yang berpredikat sarjana filsafat dan tidak menjadi gila,atau sekurang-kurangnya belum gila. Di antara mereka bahkan ada yang sangat cantik, yaitu Dian Sastro. Sayang sekali Dian kini sudah menikah. Loh apa urusannya dgn saya dan tulisan ini?hahaha (sebelum uraian ini semakin kacau,mending kita hentikan lelucon-lelucon tak lucu ini). Kesulitan memahami filsafat biasanya terkait dengan bahasa dan konteksnya. Bahkan seorang Wittgenstein sampai mengatakan kalau : membaca karya filsafat dapat digambarkan sebagai pengalaman penderitaan yang mendalam. Betapa tidak mudahnya memahami pemikiran filsafat sehingga diperlukan perjuangan yang keras.
Mengakaji filsafat berdasarkan objek kajiannya, maka kita akan bergumul dengan tiga pertanyaan yang mendasar. Pertama adalah pertanyaan apa hakikat dari kenyataan (metafisika) atau kajian terhadap hakikat kenyataan yang menghantarkan kepada pemahaman yang paling mendalam tentang sebuah kenyataan. Kedua adalah pertanyaan bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu (epistemologi) yaitu kajian terhadap pengetahuan dan dasar-dasar keyakinan, kajian mengenai arti dan dasar-dasar kebenaran. Ketiga adalah bagaimana kita melakukan atau mempraktekkan apa yang kita ketahui, sebagian besar filsafat adalah penelitian tentang moralitas dan kehidupan sosial serta aplikasinya. Pertanyaan-pertanyaan tentang filsafat akan membawa kita kepada 2 tahap permenungan. Misalkan begini:
Kita sedang mencurigai bahwa seorang politikus adalah pembohong. Dari koran,televisi,atau berbagai media, kita memabaca atau mendengar kalau sekelompok masyarakat mengatakan bahwa politikus itu mengetahui sesuatu tetapi berusaha untuk menutupinya. Ada juga sekelompok orang lain yang menyatakan bahwa politikus itu tidak pernah dengan sengaja membohongi atau merugikan siapapun. Maka kita dapat mulai berpikir tentang apa sesungguhnya kebohongan itu. Mungkin kita harus berpikir bahwa dimana ada kebohongan di situ ada kesengajaan. Maka pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan tindakan yang disengaja? Dan apakah ada tujuan yang hakiki dari kesengajaan itu? Jika ingin menjawab 2 pertanyaan ini maka tidak tepat jika kita bertanya kepada politikus atau ahli hukum, kita perlu bertanya pada filsafat. Sehingga akhirnya jawaban yan kita peroleh adalah sesuatu yang lebih mendalam dibandingkan dengan jawaban praktis dari sang politikus yang sebelumnya mungkin sudah tampak sangat jelas dan terang. Kebaikan dan keyakinan akan kebenaran sebuah gagasan akan sangat bergantung kepada posisi filosofis yang kita yakini sendiri. Posisi ini yang akan menentukan perspektif kajian kita.
Sebagai sebuah model berpikir yang logis dan runtut, filsafat membantu untuk pencapaian kesimpulan yang terbaik yang didukung oleh pola pikir dan argumentasi yang jelas. Sebuah pernyataan menjadi filosofis jika didukung dengan alasan-alasan dan argumentasi yang jelas dan saling berkaitan. Proses berpikir yang cermat dan teliti adalah salah satu karakter dari filsafat itu sendiri. Maka filsafat sering bersinggungan dan atau sering mempengaruhi perkembangan pemikiran di luar filsafat. Ilmu-ilmu alam, ilmu social, matematika, psikologi, dan masih banyak lagi sesungguhnya bermuara dari penelitian filsafat. Ada anekdot begini : Kenapa otak orang Indonesia paling mahal harganya??? - Karena masih mulus, orisinil, dan “jarang dipakai”,.. Entah kapan lelucon ini sampai ke telinga saya,.. Lucu sih,tetapi kalau dihayati ini sekaligus menyakitkan!!,. Benarkah demikian adanya?? Saya yakin tidak, tapi mungkin kadang-kadang juga iya,. Lelucon ini bisa merefleksikan banyak paradoks yang tercipta dalam kehidupan kita, dan model berpikir runtut dan logis ala filsafat mungkin merupakan jawaban yang akan menghadirkan solusi kalau mau memahami bebagai persoalan bangsa yang seolah-olah seperti benang kusut ini,tak jelas mana ujung dan pangkalnya...
Kayaknya cukup sampai di sini dulu, nanti baru dilanjutkan lagi,.. Saya sudah mulai tidak paham dan harus mengkaji apa yang saya tulis sendiri ini (singkatnya:bingung mode on,..hahaha),.mudah-mudahan tidak demikian dengan yang membacanya,.. ###




3 komentar:
Luar biasa sebenarnya, tapi mesti pelan-pelan bacanya...
hahaha... pelan-pelan saja [KotaK]
Anatara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh teologi maupun oleh ilmu pengetahuan. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat.
Saya juga lebih prefer pendekatan yang kedua. Sistematis merunut karakteristik berbagai objek yang saling mempengaruhi satu sama lain dan kemudian membuat kesimpulan yang tentu saja harus berdasarkan argumen yang kuat melalui step yang benar. Opa Whitehead bilang...Filsafat itu survey atas ilmu-ilmu. :D
Post a Comment
Terima Kasih telah mengunjungi artikel ini,.. Silahkan tingalkan Komentar,..