Gemerlap Jakarta

Tak terasa hampir 6 tahun saya menjadi penduduk Jakarta. Dengan segala hiruk-pikuk dan problema sosial-ekonomi yang menyertainya, kota ini masih terus menarik pendatang baru. Data terkini dari BPS menyatakan jumlah penduduk Jakarta sekitar 9,5 juta jiwa. Kalau digabung dengan Bogor,Depok,Tangerang,Bekasi, dan kota-kota satelit lain di sekitar Jakarta maka angkanya mencapai 23 juta jiwa !!! Tak heran bila kota ini semakin penuh dan sesak. Secara pribadi saya masih berpikir beratus kali untuk memutuskan terus menetap di kota ini, tapi gemerlap malam dan socialita Jakarta selalu membuat saya benci tapi rindu!! hahaha.. Banyak teman yang bertanya-tanya,seperti apakah Jakarta?! Tak sedikit yang ingin datang melihatnya langsung.. Nah ini ada sedikit koleksi tangkapan2 saya (kayak nelayan aja,..:P). Kali ini utk yang bagus2nya dulu, semoga saya bisa kumpulkan lagi materi utk sisi kelam2nya utk postingan yang lain,.. Seketika saya ingat sebuah pepatah : "Sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota",... Pepatah ini mungkin berlebihan tapi tidak sepenuhnya salah,. hehehehe,...


JAKARTA TRAFFIC
Kemacetan lalu lintas seolah-olah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan selalu akrab dengan keseharian warga Jakarta

Bundaran HI1
Tugu Selamat Datang, yang lebih sering dikenal sebagai Bundaran HI alias spot favorit aksi demonstari,hehe. Bundaran ini sekaligus memisahkan 2 ruas jalan tersibuk di Jakarta (dan mungkin di Indonesia) yaitu Jl Sudirman - Jl MH Thamrin

[[JAKARTA]]
Barisan gedung pencakar langit dengan cahaya gemerlap ini mungkin sangat indah di malam hari. Tapi jangan salah!!, tepat di depannya sebenarnya mengalir sebuah sungai yang sekaligus memisahkan gedung,hotel dan apartemen mewah itu dengan pemukiman kumuh.Bahkan masih banyak orang yang tinggal di kolong jembatan-jembatannya. Sebuat potret kesenjangan sosial yang masih menggerogoti bangsa ini,entah sampai kapan.....

2 komentar:

Pankratia Da Svit Kona- said...

Kata "Tangkapan"...haha

Nelayan itu pekerjaan paling mulia lho, jangan salah...hehe..
Jika Pure Nelayan,dia hanya menunggu ada yang menghampiri umpannya kemudian hasilnya bisa dibawa pulang :p
Kalo tak ada yah, dia pasrah...sudah bukan rejekinya hari itu.

*jadi ingat album photo saya (",)

doddy said...

@Pankratia,... Yah memotret mirip2 menjadi nelayan,. analogi anda sungguh logis,.. ;)

@Rose,.. Mau sampai kapan??!! kapan yah?? kapan-kapan,.. hehe :D

Post a Comment

Terima Kasih telah mengunjungi artikel ini,.. Silahkan tingalkan Komentar,..

GO TO

FLICKR PHOTOSTREAM

Roy Tanck's Flickr Widget requires Flash Player 9 or better.