[[Belum Ada Judul - Sebuah cerita FIKSI]] Part 2 - Bersambung
Detak jantungku mulai memburu. Setiap desahan napas melambungkan anganku pada kisah-kisah di masa lalu, ketika ada manisnya cinta yang mewarnai hari-hariku. Dinding kamar seakan berubah layaknya sebuah layar proyektor di sebuah bioskop tua, lengkap dgn cahaya remang-remang dan kepulan asap dimana-mana. Gelak tawa, canda, obrolan, pelukan hangat bahkan ciuman mesra, begitulah sebagian adegan yang tampil disitu, semuanya tentang bahagia yang pernah kami lalui bersama dulu, nampak begitu sempurna. Sampai akhirnya sebuah perpisahan harus menghentikannya.
Dinamika masa remaja, semangat menggebu untuk mencari jati diri dan meretas masa depan, dibumbui kecewa dan cemburu buta, perlahan-lahan menggerogoti jalinan kasih diantara kami. Egoisme mulai tumbuh dengan subur, lama-kelamaan ada rasa gengsi untuk sekedar lebih dahulu menyapa atau saling berbagi perhatian. Akhirnya tak ada lagi rasa memiliki, aku dan dia seperti tak saling membutuhkan lagi. Sebelum ada yang merasa semakin tersakiti, kami sepakat untuk mengakhiri semuanya.
Tanpa terasa, semua sudah berlalu 7 tahun lamanya. Kami memlilih tempat yang berbeda untuk melanjutkan masa depan kami masing-masing, mulai dari menuntut ilmu sampai membangun karier. Dalam kurun waktu itu, hampir tak pernah ada saling sapa. Kami sibuk dengan dunia kami masing-masing. Sampai pada malam ini, ketika sebuah pesan singkat masuk ke handphone-ku.
Aku mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin nomor hp-ku bisa sampai kepadanya… hmm facebook,. Ya,.. nomor handphone-ku tertera di facebook, karena banyak klien dan partner bisnisku di sana, sehingga aku rela mengorbankan sebagian privasiku. Maka semua ini berawal dari facebook ?? hahaha.. persis seperti barisan kata-kata di lirik sebuah lagu, tapi begitulah kenyataanya, ini sungguh-sungguh terjadi padaku.
Segera setelah ku-approve permintaan pertemanan darinya, ada sebuah chat facebook yang masuk, ternyata dia sedang online. -apa kabar?- begitu chat darinya,. -aku baik-baik saja- jawabku. Maka mulailah kami saling mengobrol lewat chat facebook. Bagaimanapun kami pernah mencoba untuk memiliki sebuah rasa yang sama, sehingga ada rasa yang berbeda ketika kami kembali berjumpa seperti ini.
Obrolan kami mengalir lancar, mulai dari berbagi kabar, pekerjaan, sampai kisah asmara kami masing-masing. Dan ternyata, saat ini dia tak ada yang memiliki,. Lalu aku??!!hahaha… 7 tahun ke belakang itu aku sama sekali tak pernah berbagi rasa dengan seorang wanita. Banyak gadis yang hadir menemani hari-hariku, tapi tak pernah ada yang terpaut di hati. Sebagian dari mereka aku anggap saudari, yang lainnya tak lebih dari sekedar teman.
“True love story never have endings”. Sebuah quotes dari Richard Bach yang tiba-tiba muncul di benakku. Dan mungkin itulah yang sedang terjadi padaku sepanjang waktu-waktu ini. Tapi rasa gengsi dan egoisme yang belum hilang, membuat aku harus mengubur setiap kenangan dan kisah-kisah indah itu. Tapi kini, dia sudah menghubungiku lebih dulu. Setidaknya dia telah menanggalkan rasa egoisme dan gengsinya,. Lalu bagaimana dgn aku ?? Sebagai seorang pria, aku harus malu. Tapi bagaimana cara mengatasinya??
-“Segera telepon dia sekarang”-,.. begitu bunyi sebuah bisikan yang tiba-tiba menerobos masuk ke telingaku. Di ruangan ini tak ada siapa-siapa, cuma aku sendiri. Ahh mungkin inilah yang sering dibilang suara hati. -“Aku mau mendengar suaramu, hanya sekedar memastikan masih sama atau berbeda, bolehkah?”- begitu kata-kataku di chat facebook. Beberapa saat kemudian Dia membalas -“boleh”- Segera aku menuju ke handphone yang masih tergeletak di lantai, dan meneleponnya. Jantungku berdegup semakin kencang dan malam ini akan jadi malam yang panjang.
#BERSAMBUNG#




0 komentar:
Post a Comment
Terima Kasih telah mengunjungi artikel ini,.. Silahkan tingalkan Komentar,..