Riung adalah sebuah tempat wisata alam yang super komplit. Taman Laut 17 Pulau Riung, begitu sebutan resmi tempat yang indah ini, walaupun jumlah pulau dalam gugusan taman laut ini melebihi 20 tapi angka 17 yang dipilih karena sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Mayoritas pulau-pulau ini berukuran kecil dan tak berpenghuni. Mau lihat pantai berpasir putih yang indah? Mau lihat laut yang biru tosca? Atau mau lihat terumbu karang dengan gerombolan anemon dan ikan-ikan lucu? Semuanya ada di sini. Bahkan mereka yang gemar trekking dan sedang beruntung mungkin bisa bertemu Mbou, sejenis biawak raksasa langka endemik Riung yang keeksotisannya disebut-sebut tidak kalah dengan komodo. Obyek wisata ini terletak di Kabupaten Ngada-Provinsi NTT-Indonesia, dengan jarak sekitar 65 km sebelah utara Bajawa, ibukota Ngada. Untuk mencapai Riung dari Bajawa tersedia angkutan umum seperti bus dan mobil travel yang berangkat setiap pagi, dengan tarif IDR 30-75 ribu rupiah. Untuk yang datang dari luar Flores atau NTT bisa memilih tansportasi udara atau laut, ke bandara atau pelabuhan terdekat seperti Ende, Maumere, atau Labuan Bajo, kemudian dilanjutkan lagi dengan perjalanan darat.
Karena rumah saya di Bajawa maka perjalanan saya ke Riung kali ini menggunakan mobil pribadi pinjaman (dipinjam dari ortu saya :P). Setelah mempersiapkan segala sesuatunya dan mengajak sejumlah rekan untuk meramaikan (wisata rame2 dijamin lebih seru :D) maka di suatu sore yang cerah pada hari Sabtu, 3 September 2011, berangkatlah saya ke Riung bersama saudara dan teman, total kami bertujuh. Ini bukan pertama kalinya saya ke Riung, tapi ini pertama kalinya saya menyetir mobil sendiri menuju Riung. Informasi yang terkumpul sebelumnya adalah bahwa kondisi jalan dari Bajawa menuju Riung lewat Soa sangat buruk. Aspal yang mulus entah sudah kemana, jalanan rusak dan kubangan-kubangan raksasalah yang menanti. Ada pilihan rute lain yaitu lewat Mbay dengan kondisi jalan yang lebih baik, tetapi jarak tempuhnya menjadi lebih jauh,hampir 2 kali lipat. Akhirnya setelah mempertimbangkan semua kemungkinan, saya memilih lewat Soa, sekalian untuk menguji skill mengemudi saya :D
Eksotisme Riung lebih bagus dinikmati mulai dari pagi sampai siang hari. Karena itu rencananya kami akan menginap di sana malam ini dan akan melakukan aktivitas wisata mulai subuh lalu kembali ke Bajawa siang hari. Sekitar pukul 17.30 WITA kami berangkat dari Bajawa menuju Riung. Benar saja, beberapa kilometer selepas Soa, jalanan beraspal mulai bolong-bolong. Selebihnya sudah berubah menjadi jalanan tanah dengan kubangan dimana-mana. Saya harus lihai mengendalikan mobil perlahan-lahan melewati kubangan. Entah seperti apa jadinya jalanan ini ketika musim hujan. Tercatat ada 3 kubangan raksasa dengan kedalaman hampir 1 meter yang membuat keringat saya menetes deras, khawatir kalau si Toyota Kijang pinjaman ini sampai nyangkut di sana lalu tak mampu keluar lagi, dan ini malam hari! Setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan selama lebih dari 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Riung. Perjalanan sempat terhenti beberapa kali untuk mengencangkan baut roda yang longgar. Dan ini baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah saya menyetir mobil!
Ada banyak penginapan di Riung dengan tarif puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Kami menginap di Hotel Bintang Wisata. Letaknya di area belakang pasar Riung dan dekat dengan sejumlah tempat makan. IDR 150 Ribu untuk sebuah kamar serba putih yang bersih dan rapih dengan double springbed, kamar mandi di dalam serta 2 buah fan untuk sirkulasi udaranya. Setelah istirahat sejenak dan merapihkan barang-barang, kami berjalan kaki ke sebuah rumah makan yang letaknya tak jauh dari penginapan. Menu santap malam kali ini seekor ikan bakar berukuran jumbo dengan panjang lebih dari 30 cm plus sayuran dan nasi secukupnya. Ini lebih dari cukup untuk mengganjal perut kami bertujuh, lalu ditutup dengan beberapa gelas bir dingin. Sesuai dengan namanya Rumah Makan “Murah Meriah”, demikianlah suasana di malam itu meriah, dan juga “Murah”, tak lebih dari IDR 120 Ribu untuk total makan 7 orang (plus bir dingin :P). Sang pemilik rumah makan yang sangat ramah, ternyata juga seorang Local Guide yang biasa mengkoordinir penyewaan kapal, life jacket. perlengkapan selam/snorkeling, dll untuk menikmati keindahan Taman Laut Riung. Saya langsung mengurus penyewaan sebuah kapal seharga IDR 250 Ribu (lebih mahal dari biasanya karena sedang peak season+weekend) dan 2 set perlengkapan snorkeling seharga IDR 100 Ribu, sehingga esok pagi, kami hanya perlu datang ke dermaga dan semuanya sudah disiapkan, tinggal tancap gas :P. Sekembalinya ke penginapan, semua langsung mencari posisi nyaman untuk membaringkan badan masing-masing. Kami hanya menyewa 2 Kamar (untuk tujuh orang :P), maka tiap orang mesti pandai-pandai mencari Posisi Wuenaknya. Sejurus kemudian suasana sudah hening (pasti juga ada efek dari bir dingin nih,huehehe). O iya, di Riung, listrik PLN hanya tersedia beberapa jam dari sore sampai malam hari, so untuk para pemilik peralatan elektronik yang perlu dicharge, jangan sia-siakan kesempatan ini: pastikan seluruh batere full!
Pukul 03.00 dini hari, saya sudah tersadar dan tak bisa lagi terlelap. Tiba-tiba saya teringat kepada 2 set perlengkapan snorkeling sewaan yang belum dicuci, juga 1 set milik saya. Bermodalkan sikat gigi dan odol, saya mulai membersihkan perlengkapan-perlengkapan tersebut (terutama karet-karet snorkel yang akan dimasukan ke mulut :P). Kegaduhan yang saya buat akhirnya membangunkan teman-teman yang lain :P . Sejam kemudian kami semua sudah bersiap-siap dan mulai sarapan pagi seadanya, teh manis hangat dan beberapa potong roti. Jam 05.00 kami sudah meninggalkan penginapan menuju ke dermaga. Ada empat buah kamera berbagai tipe dengan eksekutornya masing-masing yang tidak ingin kehilangan momen sunrise. Sebelumnya kami sempat singgah membeli ikan segar di pasar ikan sebagai bekal untuk makan siang nanti. Dengan skill menawar yang mumpuni tak kurang dari sepuluh ekor ikan seukuran telapak tangan orang dewasa bisa ditebus dengan IDR 50 ribu saja.
Riung1
Riung2
Langit di sekitar dermaga sudah mulai membara ketika kami tiba di sana. Beberapa saat setelahnya sang mentari mulai muncul malu-malu dari balik cakrawala, menyinari gugusan pulau dan riak-riak ombak yang tenang. Sungguh indah, tak terlukiskan kata-kata deh! (biar foto yang bicara :D). Setelah puas menjepret kesana-kemari dan bernarsis ria di tepi dermaga berlatarkan sunrise, kami naik ke kapal yang telah disiapkan. Sang nahkoda yang ramah, bernama Om Bahring, mulai menghidupkan motor dan melajukan kapalnya perlahan-lahan meninggalkan dermaga. Kapal kayu berkapasitas 10-15 orang ini mulai membelah ketenangan air laut menuju ke persinggahan pertama kami: Pulau kelelawar. Pulau ini berada di bagian tenggara dan ditempuh sekitar 30 menit dari dermaga. Pemandangan luar biasa kembali hadir di langit. Ribuan kelelawar terbang bebas mengitari pulau. Menurut Om Bahring, para kelelawar itu sedang berpindah tempat “nongkrong” dari salah satu sisi ke sisi lain pulaunya. Dan ini termasuk kejadian yang langka. Menyaksikan ribuan kalong yang terbang diatas laut merupakan pengalaman yang mengasyikan, konon sudah ratusan tahun mereka mendiami pulau itu. Namun sayang, beberapa sisi pulau menghitam karena kebakaran dan ini pasti ulah manusia-manusia tak bertanggung jawab.
Riung3
Riung4
Agenda selanjutnya setelah mengunjungi pulau kelelawar adalah Snorkeling. Om Bahring kembali menghidupkan mesin perahu dan memacunya meninggalkan pulau kelelawar menuju ke arah timur. Sekitar 30 menit setelahnya kamipun sudah sampai di sebuah diving spot yang ditandai dengan sebuah balon pelampung kuning tempat menambatkan kapal. Saya sempat ragu-ragu menceburkan diri ke air mengingat matahari belum terlalu tinggi. Waktu mungkin baru pukul 07.30 pagi. Air laut tampak begitu tenang dan nyaris tanpa riak ombak. Tetapi setelah saya mencelupkan setengah badan ke dalam air, ajaib, air laut itu terasa lebih hangat! Belum lagi suasana sepi ini tentu lebih mengasyikan karena sebentar lagi mungkin akan semakin banyak orang yang datang. Segera saja saya mulai berenang untuk pemanasan dengan mengitari sisi perahu. Mask terpasang di muka, ujung snorkel masuk mulut, maka dimulailah kegiatan snorkeling di pagi yang indah ini. Sayang sekali salah satu alat snorkel yang kami sewa agak rusak (inilah mengapa ada pepatah, cobalah dahulu sebelum membayar :P ). Sehingga praktis hanya 2 set alat snorkeling yang tersedia untuk dipakai bergantian. Tapi dari antara kami bertujuh hanya 4 orang saja yang berani menceburkan diri ke laut,hehe. Sisanya? Takut! dan hanya memandang dari buritan kapal,hahaha.. Padahal sebelumnya saya sudah menyewa 2 buah jacket pelampung. Dengan jacket ini, dijamin siapapun entah bisa berenang atau tidak, pasti bisa snorkeling. Hanya perlu berlatih bagaimana cara bernapas dgn snorkel, dan itu sangat mudah, 3-4 kali mencoba pasti bisa (dengan resiko menelan sedikit air, sepertinya ini tidak terlalu berbahaya :P, tentu saja tetap perlu hati-hati dan didampingi yang sudah berpengalaman).
Riung5
Riung6
Diving spot yang kami singgahi berkedalaman kurang dari 5 meter saja. Dasar laut bisa dilihat dangan mata telanjang dari atas permukaan, ketenangannya juga sangat mendukung kegiatan snorkeling. Luas areal terumbu karang di spot ini sekitar 500 meter persegi saja, tetapi keanekaragaman terumbu karang dan ikannya yang berwarna-warni membuat saya betah untuk terus berlama-lama di air (dan mulai kembali mengidam-idamkan sebuah underwater camera :P). Secara tak sengaja saya menjatuhkan sepotong roti ke dalam air dan secara mengejutkan remah-remah roti yang jatuh ke dasar laut segera disantap oleh segerombolan ikan kecil berwarna silver kebiru-biruan, entah apa nama latin mereka. Sayapun mulai menemukan sebuah keasyikan baru, memberi makan ikan dalam akuarium, bukan yang kaca tapi yang raksasa langsung di laut. wouw! Ini mungkin kedengaran terlalu spektakuler, namun begitulah kenyataanya. Di Taman Laut Riung, hal ini bukan sesuatu yang mustahil. Tanpa terasa, matahari sudah semakin tinggi, keasyikan snorkeling membuat saya lupa waktu. Kalau tidak diingatkan bahwa waktu sudah jam 10.30 dan kalau telinga saya tidak kemasukan air, dijamin saya akan tetap berlama-lama snorkeling dan enggan balik ke kapal, hehe. Kapal kembali melaju ke tujuan berikutnya yaitu Pulau Rutong. Saya sempat terbersit niat untuk kembali ke dalam air dengan peralatan snorkeling dan membiarkan tubuh saya ditarik dengan kapal menuju ke Pulau Rutong, namun Om Bahring segera menolak ide saya yang bodoh itu dengan alasan melakukannya bisa sangat-sangat berbahaya. Betul juga. :hammer:
Riung7
Riung8
Beberapa menit setelahnya, kami sudah sampai di Pulau Rutong. Tujuan kami yang terakhir. Pulau berpasir putih ini sangat indah dan sudah mulai ramai. Di sini terdapat beberapa gazebo beratap ijuk yang memang sengaja disiapkan pemda. Tentu saja dengan fasilitas tersebut, pulau ini menjadi persinggahan yang paling ramai dari antara sekian pulau yang lain. Di sinilah biasanya para turis beristirahat menghabiskan waktu sambil menikmati perbekalan yang sudah disiapkan. Bagimana dengan mereka yang tidak membawa bekal? Tenang saja di sini ada beberapa pedagang yang menjajakan makanan (mungkin hanya di weekend saja) mulai dari mi instan, gorengan, sampai nasi bungkus. Eksploitasi oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab akan tempat wisata alam selalu punya sisi negatif, apalagi kalau bukan sampah. Beberapa titik di sekitar pantai mulai dipenuhi plastik makanan dan bungkusan-bungkusan mie seduh instant. Miris! Kami segera mencaplok salah satu gazebo untuk menjadi markas sementara. Logistik ikan segar segera dikeluarkan dari plastik dan perapianpun dinyalakan. Acara membersihkan dan bakar-bakar ikan pun diserahkan kepada yang ahli. Sementara saya berjalan-jalan mengelilingi pulau sambil menunggu menu makanan siap disikat. Di tengah Pulau Rutong terdapat sebuah bukit dengan puncaknya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Sayapun tertarik untuk naik ke atas dan melihat pemandangan dari sana. Tanpa alas kaki, dengan tas kamera di punggung, kegiatan hiking ini menjadi tidak mudah. Akhirnya setelah menyusuri jalan setapak yang terjal, saya sampai juga di puncak. Lagi-lagi mata saya kembali dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa : laut biru tosca, hamparan pasir putih, garis cakrawala, dan pulau flores di kejauhan.
Riung9
Riung10
Setelah puas menyendiri di puncak bukit, saya turun kembali ke gazebo dan semua ternyata sudah selesai makan. Sayapun segera menghabiskan bagian saya, 2 ekor ikan bakar tanpa bumbu, dan sepiring nasi putih yang dibeli dari pedagang makanan di sekitar gazebo (karena kami lupa membawa nasi :P). Sementara saya makan, teman-teman yang lain masih sempat kembali berenang dan snorkeling di sekitar bibir pantai Pulau Rutong. Sambil menunggu mereka, saya memungut seluruh sampah yang kami bawa untuk dimasukan ke plastik, juga beberapa yang ada di sekitar gazebo (Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?). Sekitar pukul 13.00 WITA kami kembali ke dermaga dan menyudahi perjalanan eksotis ini. Sebelum pulang ke Bajawa, kami kembali ke penginapan untuk mandi air tawar dan beres-beres seluruh perlengkapan. Satu hari mungkin tak cukup untuk menjamah seluruh keindahan Taman Laut 17 Pulau Riung. Tapi esok kan masih ada, sambil memantapkan tekad untuk kembali lagi. –THE END-
wih...ama e...ini ko yg ceritanya buru2 pulng bajawa? hahahah mantap eee...keren2...sudah sekali (idih baru sekali) makanya pengen kesana lagi biar dua kali...mantap amaaaaaa
2 komentar:
keren!!!
wih...ama e...ini ko yg ceritanya buru2 pulng bajawa? hahahah mantap eee...keren2...sudah sekali (idih baru sekali) makanya pengen kesana lagi biar dua kali...mantap amaaaaaa
Post a Comment
Terima Kasih telah mengunjungi artikel ini,.. Silahkan tingalkan Komentar,..