Riung adalah sebuah tempat wisata alam yang super komplit. Taman Laut 17 Pulau Riung, begitu sebutan resmi tempat yang indah ini, walaupun jumlah pulau dalam gugusan taman laut ini melebihi 20 tapi angka 17 yang dipilih karena sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Mayoritas pulau-pulau ini berukuran kecil dan tak berpenghuni. Mau lihat pantai berpasir putih yang indah? Mau lihat laut yang biru tosca? Atau mau lihat terumbu karang dengan gerombolan anemon dan ikan-ikan lucu? Semuanya ada di sini. Bahkan mereka yang gemar trekking dan sedang beruntung mungkin bisa bertemu Mbou, sejenis biawak raksasa langka endemik Riung yang keeksotisannya disebut-sebut tidak kalah dengan komodo. Obyek wisata ini terletak di Kabupaten Ngada-Provinsi NTT-Indonesia, dengan jarak sekitar 65 km sebelah utara Bajawa, ibukota Ngada. Untuk mencapai Riung dari Bajawa tersedia angkutan umum seperti bus dan mobil travel yang berangkat setiap pagi, dengan tarif IDR 30-75 ribu rupiah. Untuk yang datang dari luar Flores atau NTT bisa memilih tansportasi udara atau laut, ke bandara atau pelabuhan terdekat seperti Ende, Maumere, atau Labuan Bajo, kemudian dilanjutkan lagi dengan perjalanan darat.
Karena rumah saya di Bajawa maka perjalanan saya ke Riung kali ini menggunakan mobil pribadi pinjaman (dipinjam dari ortu saya :P). Setelah mempersiapkan segala sesuatunya dan mengajak sejumlah rekan untuk meramaikan (wisata rame2 dijamin lebih seru :D) maka di suatu sore yang cerah pada hari Sabtu, 3 September 2011, berangkatlah saya ke Riung bersama saudara dan teman, total kami bertujuh. Ini bukan pertama kalinya saya ke Riung, tapi ini pertama kalinya saya menyetir mobil sendiri menuju Riung. Informasi yang terkumpul sebelumnya adalah bahwa kondisi jalan dari Bajawa menuju Riung lewat Soa sangat buruk. Aspal yang mulus entah sudah kemana, jalanan rusak dan kubangan-kubangan raksasalah yang menanti. Ada pilihan rute lain yaitu lewat Mbay dengan kondisi jalan yang lebih baik, tetapi jarak tempuhnya menjadi lebih jauh,hampir 2 kali lipat. Akhirnya setelah mempertimbangkan semua kemungkinan, saya memilih lewat Soa, sekalian untuk menguji skill mengemudi saya :D
Eksotisme Riung lebih bagus dinikmati mulai dari pagi sampai siang hari. Karena itu rencananya kami akan menginap di sana malam ini dan akan melakukan aktivitas wisata mulai subuh lalu kembali ke Bajawa siang hari. Sekitar pukul 17.30 WITA kami berangkat dari Bajawa menuju Riung. Benar saja, beberapa kilometer selepas Soa, jalanan beraspal mulai bolong-bolong. Selebihnya sudah berubah menjadi jalanan tanah dengan kubangan dimana-mana. Saya harus lihai mengendalikan mobil perlahan-lahan melewati kubangan. Entah seperti apa jadinya jalanan ini ketika musim hujan. Tercatat ada 3 kubangan raksasa dengan kedalaman hampir 1 meter yang membuat keringat saya menetes deras, khawatir kalau si Toyota Kijang pinjaman ini sampai nyangkut di sana lalu tak mampu keluar lagi, dan ini malam hari! Setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan selama lebih dari 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Riung. Perjalanan sempat terhenti beberapa kali untuk mengencangkan baut roda yang longgar. Dan ini baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah saya menyetir mobil!
Ada banyak penginapan di Riung dengan tarif puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Kami menginap di Hotel Bintang Wisata. Letaknya di area belakang pasar Riung dan dekat dengan sejumlah tempat makan. IDR 150 Ribu untuk sebuah kamar serba putih yang bersih dan rapih dengan double springbed, kamar mandi di dalam serta 2 buah fan untuk sirkulasi udaranya. Setelah istirahat sejenak dan merapihkan barang-barang, kami berjalan kaki ke sebuah rumah makan yang letaknya tak jauh dari penginapan. Menu santap malam kali ini seekor ikan bakar berukuran jumbo dengan panjang lebih dari 30 cm plus sayuran dan nasi secukupnya. Ini lebih dari cukup untuk mengganjal perut kami bertujuh, lalu ditutup dengan beberapa gelas bir dingin. Sesuai dengan namanya Rumah Makan “Murah Meriah”, demikianlah suasana di malam itu meriah, dan juga “Murah”, tak lebih dari IDR 120 Ribu untuk total makan 7 orang (plus bir dingin :P). Sang pemilik rumah makan yang sangat ramah, ternyata juga seorang Local Guide yang biasa mengkoordinir penyewaan kapal, life jacket. perlengkapan selam/snorkeling, dll untuk menikmati keindahan Taman Laut Riung. Saya langsung mengurus penyewaan sebuah kapal seharga IDR 250 Ribu (lebih mahal dari biasanya karena sedang peak season+weekend) dan 2 set perlengkapan snorkeling seharga IDR 100 Ribu, sehingga esok pagi, kami hanya perlu datang ke dermaga dan semuanya sudah disiapkan, tinggal tancap gas :P. Sekembalinya ke penginapan, semua langsung mencari posisi nyaman untuk membaringkan badan masing-masing. Kami hanya menyewa 2 Kamar (untuk tujuh orang :P), maka tiap orang mesti pandai-pandai mencari Posisi Wuenaknya. Sejurus kemudian suasana sudah hening (pasti juga ada efek dari bir dingin nih,huehehe). O iya, di Riung, listrik PLN hanya tersedia beberapa jam dari sore sampai malam hari, so untuk para pemilik peralatan elektronik yang perlu dicharge, jangan sia-siakan kesempatan ini: pastikan seluruh batere full!
Pukul 03.00 dini hari, saya sudah tersadar dan tak bisa lagi terlelap. Tiba-tiba saya teringat kepada 2 set perlengkapan snorkeling sewaan yang belum dicuci, juga 1 set milik saya. Bermodalkan sikat gigi dan odol, saya mulai membersihkan perlengkapan-perlengkapan tersebut (terutama karet-karet snorkel yang akan dimasukan ke mulut :P). Kegaduhan yang saya buat akhirnya membangunkan teman-teman yang lain :P . Sejam kemudian kami semua sudah bersiap-siap dan mulai sarapan pagi seadanya, teh manis hangat dan beberapa potong roti. Jam 05.00 kami sudah meninggalkan penginapan menuju ke dermaga. Ada empat buah kamera berbagai tipe dengan eksekutornya masing-masing yang tidak ingin kehilangan momen sunrise. Sebelumnya kami sempat singgah membeli ikan segar di pasar ikan sebagai bekal untuk makan siang nanti. Dengan skill menawar yang mumpuni tak kurang dari sepuluh ekor ikan seukuran telapak tangan orang dewasa bisa ditebus dengan IDR 50 ribu saja.
Riung1
Riung2
Langit di sekitar dermaga sudah mulai membara ketika kami tiba di sana. Beberapa saat setelahnya sang mentari mulai muncul malu-malu dari balik cakrawala, menyinari gugusan pulau dan riak-riak ombak yang tenang. Sungguh indah, tak terlukiskan kata-kata deh! (biar foto yang bicara :D). Setelah puas menjepret kesana-kemari dan bernarsis ria di tepi dermaga berlatarkan sunrise, kami naik ke kapal yang telah disiapkan. Sang nahkoda yang ramah, bernama Om Bahring, mulai menghidupkan motor dan melajukan kapalnya perlahan-lahan meninggalkan dermaga. Kapal kayu berkapasitas 10-15 orang ini mulai membelah ketenangan air laut menuju ke persinggahan pertama kami: Pulau kelelawar. Pulau ini berada di bagian tenggara dan ditempuh sekitar 30 menit dari dermaga. Pemandangan luar biasa kembali hadir di langit. Ribuan kelelawar terbang bebas mengitari pulau. Menurut Om Bahring, para kelelawar itu sedang berpindah tempat “nongkrong” dari salah satu sisi ke sisi lain pulaunya. Dan ini termasuk kejadian yang langka. Menyaksikan ribuan kalong yang terbang diatas laut merupakan pengalaman yang mengasyikan, konon sudah ratusan tahun mereka mendiami pulau itu. Namun sayang, beberapa sisi pulau menghitam karena kebakaran dan ini pasti ulah manusia-manusia tak bertanggung jawab.
Riung3
Riung4
Agenda selanjutnya setelah mengunjungi pulau kelelawar adalah Snorkeling. Om Bahring kembali menghidupkan mesin perahu dan memacunya meninggalkan pulau kelelawar menuju ke arah timur. Sekitar 30 menit setelahnya kamipun sudah sampai di sebuah diving spot yang ditandai dengan sebuah balon pelampung kuning tempat menambatkan kapal. Saya sempat ragu-ragu menceburkan diri ke air mengingat matahari belum terlalu tinggi. Waktu mungkin baru pukul 07.30 pagi. Air laut tampak begitu tenang dan nyaris tanpa riak ombak. Tetapi setelah saya mencelupkan setengah badan ke dalam air, ajaib, air laut itu terasa lebih hangat! Belum lagi suasana sepi ini tentu lebih mengasyikan karena sebentar lagi mungkin akan semakin banyak orang yang datang. Segera saja saya mulai berenang untuk pemanasan dengan mengitari sisi perahu. Mask terpasang di muka, ujung snorkel masuk mulut, maka dimulailah kegiatan snorkeling di pagi yang indah ini. Sayang sekali salah satu alat snorkel yang kami sewa agak rusak (inilah mengapa ada pepatah, cobalah dahulu sebelum membayar :P ). Sehingga praktis hanya 2 set alat snorkeling yang tersedia untuk dipakai bergantian. Tapi dari antara kami bertujuh hanya 4 orang saja yang berani menceburkan diri ke laut,hehe. Sisanya? Takut! dan hanya memandang dari buritan kapal,hahaha.. Padahal sebelumnya saya sudah menyewa 2 buah jacket pelampung. Dengan jacket ini, dijamin siapapun entah bisa berenang atau tidak, pasti bisa snorkeling. Hanya perlu berlatih bagaimana cara bernapas dgn snorkel, dan itu sangat mudah, 3-4 kali mencoba pasti bisa (dengan resiko menelan sedikit air, sepertinya ini tidak terlalu berbahaya :P, tentu saja tetap perlu hati-hati dan didampingi yang sudah berpengalaman).
Riung5
Riung6
Diving spot yang kami singgahi berkedalaman kurang dari 5 meter saja. Dasar laut bisa dilihat dangan mata telanjang dari atas permukaan, ketenangannya juga sangat mendukung kegiatan snorkeling. Luas areal terumbu karang di spot ini sekitar 500 meter persegi saja, tetapi keanekaragaman terumbu karang dan ikannya yang berwarna-warni membuat saya betah untuk terus berlama-lama di air (dan mulai kembali mengidam-idamkan sebuah underwater camera :P). Secara tak sengaja saya menjatuhkan sepotong roti ke dalam air dan secara mengejutkan remah-remah roti yang jatuh ke dasar laut segera disantap oleh segerombolan ikan kecil berwarna silver kebiru-biruan, entah apa nama latin mereka. Sayapun mulai menemukan sebuah keasyikan baru, memberi makan ikan dalam akuarium, bukan yang kaca tapi yang raksasa langsung di laut. wouw! Ini mungkin kedengaran terlalu spektakuler, namun begitulah kenyataanya. Di Taman Laut Riung, hal ini bukan sesuatu yang mustahil. Tanpa terasa, matahari sudah semakin tinggi, keasyikan snorkeling membuat saya lupa waktu. Kalau tidak diingatkan bahwa waktu sudah jam 10.30 dan kalau telinga saya tidak kemasukan air, dijamin saya akan tetap berlama-lama snorkeling dan enggan balik ke kapal, hehe. Kapal kembali melaju ke tujuan berikutnya yaitu Pulau Rutong. Saya sempat terbersit niat untuk kembali ke dalam air dengan peralatan snorkeling dan membiarkan tubuh saya ditarik dengan kapal menuju ke Pulau Rutong, namun Om Bahring segera menolak ide saya yang bodoh itu dengan alasan melakukannya bisa sangat-sangat berbahaya. Betul juga. :hammer:
Riung7
Riung8
Beberapa menit setelahnya, kami sudah sampai di Pulau Rutong. Tujuan kami yang terakhir. Pulau berpasir putih ini sangat indah dan sudah mulai ramai. Di sini terdapat beberapa gazebo beratap ijuk yang memang sengaja disiapkan pemda. Tentu saja dengan fasilitas tersebut, pulau ini menjadi persinggahan yang paling ramai dari antara sekian pulau yang lain. Di sinilah biasanya para turis beristirahat menghabiskan waktu sambil menikmati perbekalan yang sudah disiapkan. Bagimana dengan mereka yang tidak membawa bekal? Tenang saja di sini ada beberapa pedagang yang menjajakan makanan (mungkin hanya di weekend saja) mulai dari mi instan, gorengan, sampai nasi bungkus. Eksploitasi oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab akan tempat wisata alam selalu punya sisi negatif, apalagi kalau bukan sampah. Beberapa titik di sekitar pantai mulai dipenuhi plastik makanan dan bungkusan-bungkusan mie seduh instant. Miris! Kami segera mencaplok salah satu gazebo untuk menjadi markas sementara. Logistik ikan segar segera dikeluarkan dari plastik dan perapianpun dinyalakan. Acara membersihkan dan bakar-bakar ikan pun diserahkan kepada yang ahli. Sementara saya berjalan-jalan mengelilingi pulau sambil menunggu menu makanan siap disikat. Di tengah Pulau Rutong terdapat sebuah bukit dengan puncaknya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Sayapun tertarik untuk naik ke atas dan melihat pemandangan dari sana. Tanpa alas kaki, dengan tas kamera di punggung, kegiatan hiking ini menjadi tidak mudah. Akhirnya setelah menyusuri jalan setapak yang terjal, saya sampai juga di puncak. Lagi-lagi mata saya kembali dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa : laut biru tosca, hamparan pasir putih, garis cakrawala, dan pulau flores di kejauhan.
Riung9
Riung10
Setelah puas menyendiri di puncak bukit, saya turun kembali ke gazebo dan semua ternyata sudah selesai makan. Sayapun segera menghabiskan bagian saya, 2 ekor ikan bakar tanpa bumbu, dan sepiring nasi putih yang dibeli dari pedagang makanan di sekitar gazebo (karena kami lupa membawa nasi :P). Sementara saya makan, teman-teman yang lain masih sempat kembali berenang dan snorkeling di sekitar bibir pantai Pulau Rutong. Sambil menunggu mereka, saya memungut seluruh sampah yang kami bawa untuk dimasukan ke plastik, juga beberapa yang ada di sekitar gazebo (Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?). Sekitar pukul 13.00 WITA kami kembali ke dermaga dan menyudahi perjalanan eksotis ini. Sebelum pulang ke Bajawa, kami kembali ke penginapan untuk mandi air tawar dan beres-beres seluruh perlengkapan. Satu hari mungkin tak cukup untuk menjamah seluruh keindahan Taman Laut 17 Pulau Riung. Tapi esok kan masih ada, sambil memantapkan tekad untuk kembali lagi. –THE END-
Saya baru "ngeh" klo ternyata video2 di facebook juga bisa di embed ke blog..:P ( gaptek :hammer: )
Nostalgia dulu ahh.. mohon maaf klo suara melodinya agak2 fales.. bginilah nasib jadi musisi gagal :)).. (seraya memohon ampun kepada yg empunya lagu:Om JOE SATRIANI)
-“Bagi saya, hidup adalah proses bertanya. Jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita. Namun pertanyaanlah yang membuat kita terus maju “-
Kalimat Dewi Lestari ini terus terngiang dalam benak saya meskipun kepulan asap terakhir sudah pergi bersamaan dengan halaman terakhir buku MADRE, yang entah untuk keberapa kalinya saya baca lagi. Buat yang punya atau pernah baca buku itu, kalimat diatas ada di tulisan pengantar Dee yang judulnya “Menjelajahi Hasil Fusi” (buat yang belum punya dan belum baca, saya doakan semoga nanti bisa punya dan atau bisa baca..hehe)
Lalu sayapun tiba-tiba ingin menulis ini. Mungkin juga karena saya terinspirasi dari tokoh Tansen Wuisan dalam cerpen Madre yang juga seorang blogger. Tapi lebih karena saya merasa kalimat Dewi Lestari diatas itu benar-benar mengelaborasi sebagian besar isi otak saya. Saya manusia yang sering bertanya. Bahkan mungkin terlalu sering sampai-sampai saya merasa aneh sendiri. Namun Dewi Lestari sudah membuat saya kembali bahagia, setidaknya saya merasa ada orang lain yang berpikiran sama dengan saya (Karena lebih banyak isi otak saya tidak nyambung dengan orang, maka lahirlah blog ini,hehe).Permenungan saya tentang tanya-bertanya yang dikaitkan dengan tahu-tak tahu bahkan pernah melahirkan sebuah tulisan tak jelas yang berjudul “SAYA BODOH”.
Manusia dikaruniakan otak yang maha sempurna, maka jadilah kita spesies yang selalu ingin tahu. Kita bertanya-tanya lalu berusaha mencari jawaban. Yang paling mendasar tentu pertanyaan tentang kenapa kita ada, darimana segalanya berasal, akankah semuanya ada akhir atau apakah alam semesta ini ada Penciptanya. Saya berani taruhan kalau hampir semua manusia waras pasti pernah berusaha menjawab ini atau paling tidak pertanyaan ini pasti sempat melintas di dalam otak semua manusia. Ini akan menjadi sebuah analisis filsafat yang rumit dan membosankan kalau saya panjang lebarkan lagi. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi manusia dan alam semesta bukan lagi bagian dari ilmu filsafat kuno, karena pakar-pakar Fisika Modern semacam Stephen Hawking bisa dengan mudah menjelaskan jawaban-jawabannya.
Saya lebih tertarik untuk mengkaji satu pertanyaan saja yang selalu berkecamuk di otak saya yaitu “untuk apa kita ada?”. Karena saya punya agama dan saya percaya Tuhan, maka saya yakin keberadaan kita ini pasti ada tujuannya. Dan jawaban paling sederhana dan paling mendasar dari pertanyaan ini menurut saya adalah “kita ada untuk berbagi”. Mungkin jawaban ini akan berbeda dengan jawaban orang lain, tetapi saya yakin semua jawaban yang positif dan serius untuk pertanyaan ini pasti benar. Hidup akan menjadi indah kalau kita suka berbagi. Berbagi cinta kasih, berbagi kebahagiaan, berbagi pengetahuan, berbagi rejeki dan berbagi-berbagi yang lain (kecuali berbagi hutang dan berbagi dosa..hehe)..
Ketika beranjak remaja, saya sering bertanya : kira-kira apa yang bisa bikin masa depan saya bahagia ya? Lalu jawaban saya ketika itu hanya satu, saya harus jadi kaya-raya, saya harus punya banyak uang. Dengan begitu saya bisa belikan orangtua saya apapun yang mereka minta, saya bisa traktir teman-teman, saya bisa keliling dunia, saya bisa punya mobil sport+apartemen mewah+rumah kaca di pinggir pantai berpasir putih dan saya bisa bikin sekolah gratis+panti asuhan. Garis besarnya kira-kira begitu, kalau dirinci lagi mungkin keinginan-keinginan itu bisa jadi ribuan. Tetapi setelah bertambahnya usia (jadi brasa tua deh :P haha) dan bertambahnya kepingan-kepingan pengetahuan yang menyusun otak, juga perjalanan hidup bersama orang-orang lain di sekitar saya (mungkin termasuk anda yang baca J ) lalu banyak hal-hal sederhana lainnya, yang akhirnya memaksa saya dengan sadar dan tanpa paksaan meralat jawaban saya itu.
Hidup bahagia dengan menjadi kaya raya dan punya banyak uang, bukan hal yang mustahil atau tidak boleh dicita-citakan. Tapi saya merasa itu seharusnya bukanlah sebuah tujuan, melainkan hasil. Hasil dari apa? Ya hasil dari Berbagi. Misalnya begini : saya punya pengetahuan, lalu saya bagi dengan orang lain, lalu kami bisa bikin sebuah perusahaan. Karena semangat saya berbagi dan bukan rakus, maka dengan perhitungan yang matang maka perusahaan tersebut jadi maju, karena maju keuntungannya jadi banyak, maka saya bisa bikin perusahaan berikutnya lagi dan kembali berbagi lagi dengan orang lain. Semakin banyak orang semakin banyak doa dan karena semangatnya berbagi rejeki maka makin banyak lagi ketulusan dan loyalitas. Maka begitu terus dan terus, sampai akhirnya saya bisa sekaya Bill Gates dan seinspiratif Steve Job..hehehe.. Ini hanya contoh, tapi kira-kira begitulah alur logikanya. Ketika kita berbagi dengan tulus dan sesuai dengan kemampuan kita, pasti ada balasanNya hanya masalah kapan dan bagaimana balasan itu datang. Berbagi dengan tulus seperti memancarkan aura positif ke alam semesta.
Ngeblog dan menulis ini juga adalah bagian dari semangat saya untuk berbagi. Walaupun saya tidak tahu siapa yang saya bagi dan apakah ada manfaatnya, tapi saya yakin akan ada balasanNya kalo ini benar-benar bermanfaat buat teman-teman yang rela membacanya. Semoga.
Teruslah Bertanya dan Teruslah Berbagi !
Where do we go?????
JAKARTA
24/11/2011
02.30 AM
NB: Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kabar kalau salah satu foto saya dari blog ini, entah yang mana dan oleh siapa, dimuat di sebuah Koran lokal di Flores, tanpa terlebih dahulu minta ijin atau setidaknya menghubungi saya. walaupun katanya ada watermark saya di situ. Secara etika saya merasa diperlakukan tidak nyaman, ini bukan karena masalah kompensasi (dan saya tidak akan minta satu peserpun). Tetapi walaupun saya bukan fotografer, foto-foto jelek yg saya publish adalah proses kreatif saya yang ada copyrightnya. Hanya saya yang berhak menaruhnya dimana saja dan memberikan kepada orang lain dengan persetujuan saya. Tapi setelah membaca Madre hari ini, dan setelah baca ulang tulisan ini, saya pikir itu mungkin salah satu konsekuensi dari semangat saya berbagi dengan blog ini maupun dengan media social network lain yg saya ikuti. Sehingga saya merasa tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Mungkin ada teman-teman blogger yang paham atau mengerti tentang hal semacam ini di dunia blogging,??jangan sungkan utk berkomen dan berbagi jawaban dgn sy ya..terimakasih..
Melihat judul ini yang baca pasti pada bingung.. apa hubungannya komodo dan komedo?? Temenan?kakak-adik?sepasang kekasih?? Semuanya salah!..Yah jelas tak ada hubungannya lah..:D
Saya senang aja menghubung-hubungkan kedua kata itu.. :D (pasang muka lugu,sambil pencet2 komedo di idung.. peace ^.^v :P).. Ketika komodo lagi ramai diperbincangkan dimana-mana, sy malah asik2an pencet komedo.. nah itu dia hubungannya.. dan berujung di lahirnya tulisan ini.. hahaha (sambil garuk2 hidung).. Tapi tenang aja, saya juga sudah sms kok.. bahkan sy tidak menghitung sms sy yg saking banyaknya (krn sy curang nge“boot” dari modem internet..hehe :P).. Prinsip saya jikalau komodo menang syukur.. klo kalah juga tak mengapa, bahkan kalo ketipu sama yayasan new7wonder yang (kemungkinan) abal2, sy ikhlas kok.. Bahkan 65 % sy yakin yayasan ini memang tidak beres.. Biasanya ketika sebuah lembaga atau perorangan membuat kompetisi, maka aturan main dan mekanismenya pasti menjadi hal utama yang dipastikan sejak awal kompetisi.. nah klo yg ini aturan aja berubah-ubah,mekanisme penilaian juga tak jelas,katanya komodo sudah dicoret tapi masuk lagi, alamat kantornya ternyata museum, sampai minta upeti 200 miliar dan lain-lain sebagainya.. jadwal pengumuman pemenang yang katanya tanggal 11.11.11 juga menjadi tak jelas, karena dalam rilis terbarunya dikatakan; yang akan diumumkan hanya pemenang sementara.. Loh???!! [Lu yang buat aturan,lu yang ngerubah lagi,begitu aja seterusnya.. cape dehhhh.. .:hammer:.]
Tapi sy tidak berniat untuk mengkaji hal-hal mencurigakan seperti tersebut diatas (dan dengan adanya itu smua pun sy tetap sms kok :P).. Saya mau menulis tentang makanan komodo.. Apakah komodo butuh makan? Apa yang dia makan? Siapa yang ngasih beliau makan? Mungkin bagi banyak orang,ini hal yang tak penting tapi ternyata banyak hal yg menarik perhatian saya justru dari hal sepele semacam ini.
#####
Sebenarnya, saya pun belum pernah ke pulau komodo (::hammer::).. Padahal dulu saya penah tinggal 2 tahun di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai yang dulunya merupakan wilayah administrasi kabupaten tempat Taman Nasional Komodo ini berada. Sekarang Kabupaten Manggarai telah dibagi menjadi tiga kabupaten dan TN Komodo masuk ke wilayah administrasi kabupaten Manggarai Barat dengan ibu kotanya Labuan Bajo. Saya juga baru sekali seumur hidup jalan2 ke Labuan Bajo, sayangnya waktu itu Komodo belum setenar sekarang sehingga belum ada hasrat menggebu utk berkenalan dengan beliau dan waktu itu itu saya masi bersekolah dengan seragam baju putih dan celana pendek merah, maka jelas tak mungkin saya bisa backpacking sendirian melihat si Komo… :P
Padahal saudara sepupu ayah saya tinggal di Labuan Bajo dan bekerja sebagai karyawan TN Komodo. Dari beliau inilah saya banyak mendapatkan cerita-cerita seputar kehidupan komodo, dan ajak2an untuk melihat komodo yang (dengan sangat menyesal..ckck) sampai hari ini belum juga terwujud. Salah satu ceritanya tentang komodo yang paling menarik buat saya adalah ttg makanan komodo. Jadi, si Komo ini termasuk binatang yang sangat amat super duper luar biasa dalam urusan makan-memakan. Komodo hanya perlu makan 1 kali dalam sebulan, bahkan untuk yang berukuran kecil bisa lebih lama dari 1 bulan.. Coba bayangkan saja kalau manusia juga bisa demikian.. wahh sudah brapa juta tabungan saya hasil menabung uang makan sejak awal kuliah dulu sampai setelah lulus dan jadi pengangguran seperti sekarang..hehehe.. Untuk menghemat suplai energi dalam tubuhnya, komodo bisa diam bagaikan patung selama berjam-jam.. Namun ketika lapar dan siap berburu mangsanya, komodo mampu berlari sampai kecepatan 20an km/jam.. Komodo juga bisa berenang..
Lalu apa makanan komodo? Komodo adalah jenis hewan karnivora pemakan daging mamalia seperti monyet, babi hutan, kambing, rusa, bahkan kerbau.. Buruannya ini biasanya dibiarkan sekarat atau mati terlebih dahulu akibat gigitanya yang sangat berbisa, baru kemudian ditelan secara utuh atau bangkainya dinikmati sedikit-demi sedikit.. wooww si komo tenyata psikopat yg sadis ya…?!! itulah bagaimana cara si Komo makan… Tapi apakah komodo masih mudah untuk mencari makan?? Inilah fakta menarik yang jarang dibicarakan dan dipedulikan orang-orang awam.. Menurut cerita paman saya: populasi hewan-hewan buruan komodo saat ini hampir NOL.. Kenapa? Yah karena ulah manusia… Komodo harus berebutan makanan dengan para pemburu liar yang masuk keluar TN Komodo secara illegal.. Jumlah mereka sangat banyak, sampai2 para petugas TN Komodo dibekali senjata api untuk menghalau mereka keluar dari area Taman Nasional… Pernah juga paman saya harus melakukan adegan tembak-menembak dan kejar-kejaran layaknya di film2 action Hollywood.. Yang paling menyedihkan adalah nasib si Komo; makan sebulan sekali aja susah, gimana kalau harus makan setiap hari?? Miris…!!
Tak heran jika populasi komodo dari tahun ke tahun tidak pernah bertambah bahkan berkurang sangat drastis.. Profesor Putra Sastrawan, salah satu pakar komodo terbaik yang dimiliki Indonesia, mengatakan bahwa hasil penelitiannya menunjukan populasi komodo berkurang hampir 50% dalam kurun waktu 20 tahun, dari 5000 ekor di tahun 1980-an sekarang hanya kurang dari 2500 ekor.. Mayoritas komodo makan dari belas kasihan para turis yang datang, kemudian membelikan satu/dua ekor kambing untuk diumpankan ke komodo lalu menyaksikan si Komo makan.. Ada juga yang berhati lebih mulia dengan membeli beberapa ekor kerbau atau kambing kemudian dilepaskan hidup2 ke dalam hutan2 tandus dan padang gersang tempat tinggal komodo.. Kehadiran turis yang semakin banyak bisa membawa dampak positif maupun negatif.. Sisi positifnya adalah setidaknya kebutuhan makan komodo dapat terpenuhi walaupun belum tentu sangat signifikan. Tapi ada sisi negatifnya yaitu komodo akan terlalu terbiasa manja dengan makanan pemberian manusia dan akhirnya enggan hidup normal di habitatnya.. Menurut Profesor Sastrawan, hal ini jusru akan membahayakan kelangsungan hidup komodo sendiri..
Maka menurut saya yang paling terpenting saat ini untuk keberlangsungan hidup komodo adalah konservasi lingkungan hidupnya, bukan popularitas semata. Kalau saja komodo bisa bicara dan ngomong di tivi pasti dia minta makanan bukan minta terkenal :P.. Akan sangat menyedihkan kalau daur hidup dan populasi komodo terus menerus menurun.. dalam rumus regresi linear saja (supaya keren dikit..:P) dengan mudah kita bisa menghitung kalau keadaan komodo tetap seperti sekarang maka 20 tahun lagi populasinya akan menjadi 0%.. Seandainya komodo menang dalam kompetisi new7wonders of nature kali ini, bukan berarti perjuangan sudah usai.. Perlu upaya yang luar biasa dari berbagai bihak yang berwenang untuk melakukan konservasi,dan penelitian komperhensif ttg habitat komodo. Bila perlu jalur sms tetap dibuka supaya dana yang terkumpul bisa didonasikan untuk konservasi komodo, bukan untuk kampanye popularitas semata… Gak lucu kan klo kita gembar-gembor kampanye trus 10 tahun lagi orang ke pulau komodo untuk melihat komodo yang di penangkaran dan tak ada bedanya dgn di kebun binatang??
#####
Alkisah, pada suatu ketika seorang wartawan muda sekaligus detektif TINTIN sedang terbang dengan menggunakan pesawat terbang menuju ke Sidney-Australia setelah terlebih dahulu transit di Bandara Kemayoran Jakarta. Namun naas bagi TINTIN, pesawat yang ditumpanginya jatuh di Pulau Komodo di mana dia dan kapten HADDOCK serta PROFESOR CALCULUS akhirnya bertemu dengan sekawanan komodo.. Begitulah sepenggal cerita dari salah satu tokoh komik favorit saya TINTIN dalam kisahnya yg berjudul “Flight 714”.. Komodo sudah sangat popular di dunia, salah satu buktinya adalah penggalan kisah di komik karya komikus HERGE asal Belgia ini.. Kisah2 petualangan TINTIN baru saja diadaptasi ke Layar Lebar [dengan Produser ternama Stieven Spielberg dan sutradara hebat Peter Jackson yang dulu tenar lewat Lord of The Ring].. Bukan tak mungkin (lebih tepatnya mimpi saya) pada suatu saat kisah Tintin bersama komodo juga difilmkan.. Tetapi yang lebih penting, saya dan mungkin semua yang baca berharap, komodo tidak sekedar dijadikan komoditas utk meraih keuntungan ekonomi atau mungkin politik, tapi juga nasib keberlangsungan hidupnya yang lebih diperhatikan.Sehingga komodo tetap ada sampai kapanpun dan tidak bernasib seperti komedo yang harus dimusnahkan...hehehe
Cukup dulu deh.. kayaknya sudah kepanjangan nih tulisan..hahaha… Thanks utk yang sudah bersedia membacanya sampai selesai.. TETAP DUKUNG KOMODO… ketik KOMODO kirim ke 9818 sebanyak-banyaknya !!! (masih ada waktu 3 hari lagi)…
Hanya ingin bertanya:Ini komodo apa Cicak yah??? LOL